Kamis, 31 Mei 2012

Penggunaan Dan Pembangunan Kekuatan

 PEMBANGUNAN DAN PENGGUNAAN KEKUATAN
A.    PENDAHULUAN
 Dalam Repelita I telah digariskan tiga kebijaksanaan pokok dalam sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional (Hankam-  nas).

a)    Peningkatan Keamanan dan Ketertiban Dalam Negeri sebagai syarat utama terbinanya Stabilitas Nasional di segala bidang.
b)    Konsolidasi kekuatan-kekuatan Pertahanan dan Keamanan Nasional serta realisasi integrasi ABRI baik sebagai kekuatan Hankamnas maupun sebagai Kekuatan Sosial.
c)    Pemeliharaan daya tahan dan kesiapsiagaan kekuatan-kekuatan Pertahanan dan Keamanan Nasional untuk menghadapi segala kemungkinan.

 Kebijaksanaan-kebijaksanaan pokok tersebut di atas di-perlukan untuk menunjang pelaksanaan Repelita I baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya maupun dalam bidang Hankamnas sendiri.

 Dalam Repelita I memang belum dilakukan usaha pem¬bangunan Hankamnas dalam arti yang sebenarnya, mengingat keterbatasan penyediaan pembiayaan untuk sektor Hankam;  dana pembangunan sangat diperlukan bagi bidang sektor lain, khususnya bidang ekonomi. Usaha pembangunan Hankamnas masih terbatas pada usaha dan langkah-langkah konsolidasi kekuatan-kekuatan Hankamnas saja.

     Dalam rangka kebijaksanaan pokok yang pertama, kondisi   dan situasi keamanan dalam negeri dan ketertiban masyarakat (KAMDAGRI dan KAMTIBMAS) dapat diciptakan dengan baik, sekaligus dapat pula digalang adanya dinamik dalam ma-syarakat yang sedang membangun dirinya.

     Secara strategis kekuatan latent sisa-sisa G-30-S/PKI dapat dipatahkan sama sekali, usaha penyusunan kekuatan kembali     di beberapa tempat ditanah air kita, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur telah dapat dihancurkan dengan operasi-operasi Intelijen dan Teritorial. Di samping itu secara strategis,  kekuatan-kekuatan G-30-S/PKI/PARAKU di Kalimantan Ba-   rat juga sudah dapat dipatahkan, operasi-operasi Intelijen dan Teritorial terus dilakukan untuk memelihara kondisi KAMDAGRI dan KAMTIBMAS setempat, khususnya di daerah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia, operasi-operasi diselenggarakan  bersama  antara  fihak  Malaysia dan Indonesia.

     Gejolak-gejolak sosial yang timbul di beberapa kota besar di Indonesia juga dapat diatasi dengan baik. Pada umumnya menghadapi Repelita ke-II ini, kondisi dan situasi KAMDAGRI/KAMTIBMAS cukup mantap untuk peningkatan pelaksanaan pembangunan dalam Repelita II  nanti.
     Kebijaksanaan pokok kedua dapat dicapai sepenuhnya, kekuatan-kekuatan Hankamnas dapat dikonsolidasikan baik mental-idiil, strukturil-organisatoris maupun fisik. Pembinaan kekuatan Hankamnas tersebut sekaligus mencakup realisasi integrasi ABRI baik sebagai kekuatan Hankamnas maupun sebagai kekuatan Sosial.

     Telah dapat dirumuskan satu Konsepsi Strategi Hankamnas yang merupakan bahagian integral daripada Strategi Nasional baik untuk jangka panjang, sedang maupun pendek, baik aspek pembangunan Kekuatan Hankamnas, kemampuan-kemampuan maupun penggunaannya. Mekanisme yang tepat juga sudah terselenggara untuk merealisasikan Konsepsi Strategi tersebut berikut Sistem Pimpinan dan Pengendaliannya.

     Doktrin Dasar beserta Doktrin Induk Pelaksanaannya juga telah dapat dimantapkan peng-implementasiannya dalam masa Repelita I; doktrin-doktrin tersebut diperlukan bagi tercip-    tanya kesatuan langkah tindak.

     Sasaran integrasi ABRI 1969-1973 baik sebagai kekuatan Hankamnas maupun sebagai kekuatan Sosial sudah dapat di-selesaikan dalam masa Repelita I ini, sedangkan masa Repelita   II nanti akan disempurnakan lebih lanjut.
Kebijaksanaan pokok yang ketiga dalam Repelita I sangat dipengaruhi oleh keterbatasan tersedianya biaya yang diperlu¬-kan, namun demikian menyadari sepenuhnya keperluan biaya yang mendesak bagi pembangunan nasional pada bidang dan sektor lain maka telah dapat diusahakan peningkatan pemeli- haraan daya tahan dan tingkat kesiapsiagaan secara optimal.

     Peremajaan personil ABRI terus dilakukan, khususnya peremajaan golongan pimpinan dalam tubuh ABRI mendapat perhatian sepenuhnya, mereka inilah yang dalam masa Repelita  II nanti sudah akan mulai menggantikan pimpinan eselon ter¬-tentu dalam organisasi dan tubuh ABRI.

     Peremajaan materiil dilakukan secara sangat terbatas dan selektif berdasarkan skala prioritas yang tajam dan masih ter-batas pada bagian-bagian yang sangat mutlak dalam     menunjang daya mampu operasionil unsur-unsur kekuatan   ABRI tertentu.

 Peningkatan kesiapsiagaan operasionil dapat dilihat hasilnya yang telah dapat dicapai dalam penumpasan tiap-tiap usaha  untuk merongrong kemantapan kondisi dan situasi KAMDAG- RI/KAMTIBMAS. Sebagai kesimpulan kiranya dapat dikemukakan bahwa    sektor Pertahanan dan Keamanan Nasional dalam masa Repe¬-  lita I dapat menunjang sepenuhnya usaha pembangunan nasi- onal dalam keseluruhannya dan inilah hakekat daripada kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan kepada sektor Hankamnas.

B.    PEMBAHASAN
1.    Tujuan dan sasaran
a.    Tujuan Pembangunan Hankamnas
  Tujuan Pembangunan Hankamnas adalah membangun suatu kekuatan Hankamnas dengan kwalitas dan kwantitas yang diperlukan bagi terlaksananya kebijaksanaan Hankamnas.  
   Kebijaksanaan Hankamnas untuk masa Repelita II, 1974-  1978 merupakan kelanjutan daripada Kebijaksanaan Hankamnas Repelita I 1969-1973, dengan inti-intinya adalah :

1)    Politik Hankamnas ialah Pengamanan terlaksana¬-     nya Sapta Krida Kabinet Pembangunan II serta Pelaksanaan    Pembangunan   Nasional   Repelita  II.
2)    Untuk mewujudkan Politik Hankamnas tersebut, maka Strategi Hankamnas ialah : Penyusunan Ke¬kuatan/Kemampuan Hankamnas yang sanggup mendukung perjuangan kepentingan nasional di forum internasional serta mampu mengatasi anca¬man-ancaman subversi dari luar dan dari dalam     dan segala macam hambatan lainnya, yang pada dasarnya merupakan usaha penyempurnaan kon¬solidasi & integrasi ABRI/HANKAMNAS baik sebagai kekuatan Hankamnas maupun sebagai ke¬kuatan sosial, dan penyempurnaan masalah KAM¬DAGRI/KAMTIBMAS.
3)    Untuk meiaksanakan Strategi tersebut, maka tugas  tugas pokok ABRI adalah sebagai berikut :
1.    Meningkatkan kwalitas operasionil, administrasi dan ma  nagement sebagai satu  organisasi terintegrasi.
2.    Mengamankan Repelita II dan ikut serta mensukseskan Pembangunan Nasional.
3.    Menghancurkan sisa-sisa G-30-S/PKI serta subversi lain¬-  nya, mengatasi gangguan-gangguan terhadap keamanan    dan ketertiban nasional.
4.    Mulai meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi partisipasi aktif rakyat banyak dalam bidang Hankamnas.
5.    Ikut serta memelihara kestabilan kawasan Asia Tenggara, mendukung politik luar negeri yang bebas aktif, serta ikut serta menggalang Ketahanan Nasional negara-negara Asia Tenggara, khususnya negara Asean.
     Dengan demikian tugas pokok ABRI tegas-tegas mengamankan terselenggaranya program pemerintah yang termaktub   dalam Sapta Krida Kabinet Pembangunan dan Repelita II.

b.    Sasaran Kekuatan Hankamnas
Kekuatan rakyat di bidang pertahanan keamanan yang merata di seluruh wilayah negara dan nyata dapat dirasakan, yang terwujud oleh masa rakyat yang militant, spontan, didasari ketahanan ideologi Pancasila dan rasa cinta terhadap tanah air, untuk menentang setiap usaha atau gejala yang membahayakan atau melawan musuh yang mengancam kelangsungan hidup bangsa Indonesia tanpa mengenal menyerah.
a. ABRI sebagai kekuatan Hankam
Angkatan perang atau ABRI dengan kekuatan siap yang kecil dan cadangan yang cukup, yang sanggup menghadapi situasi yang bisa timbul di masa depan dan menjalankan berbagai tugas lainnya yang bisa dibebankan kepadanya termasuk pelaksanaan hak serta kedaulatan negara atas seluruh wilayahnya. Polri yang cukup dan mampu menjalankan ketertiban masyarakat, menyelenggarakan penyelamatan.


b. ABRI sebagai kekuatan sosial
ABRI yang mampu merupakan penjelmaan jiwa dan semangat pengabdian ABRI sebagai kekuatan sosial, yang bersama-sama kekuatan sosial lainnya dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan yang menunjang usaha peningkatan stabilitas nasional, perwujudan cita-cita kemerdekaan dan pencapaian tannas yang menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.
c.    Sasaran Kemampuan Hankamnas
Sasaran kemampuan hamkamnas adalah sebagai berikut:
a. Kemampuan intelijen strategik
b. Kemampuan pembinaan wilayah
c. Kemampuan lawan subversi
d. Kemampuan lawan berusuhan massal
e. Kemampuan lawan teror
f. Kemampuan pengamatan laut
g. Kemampuan pengintaian dan perondaan lepas pantai
h. Kemampuan peperangan laut
i. Kemampuan peperangan darat
j. Kemampuan pengamatan udara
k. Kemampuan pertahanan udara
l. Kemampuan penyerangan udara
m. Kemampuan peperangan amfibi
n. Kemampuan penyerbuan lintas udara
o. Kemampuan peperangan lawan gerilya
p. Kemampuan pemindahan strategi
q. Kemampuan penertiban masyarakat
r. Kemampuan penyelamatan masyarakat
s. Kemampuan peperangan hukum
t. Kemampuan peperangan wilayah
d.    Sasaran Program
Sektor Hankamnas dibagi 4 subsektor, yaitu:
a. Subsektor kekuatan pertahanan.
b. Subsektor kekuatan keamanan.
c. Subsektor dukungan umum.
d. Subsektor bakti ABRI.
Setiap subsector terdiri dari program-program dengan sasaran-sasaran programnya sebagai yang diutarakan berikut ini.
a. Subsektor kekuatan pertahanan
Subsektor ini, meliputi program-program berikut ini.

1.    Program bala pertahanan wilayah. Program ini menangani pembinaan kekuatan TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU yang menitikberatkan pada kemampuan-kemampuan wilayah masing-masing.
2.    Program bala pertahanan terpusat. Program ini menangani pembinaan kekuatan TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU yang menitikberatkan pada peningkatan kemampuan masing-masing secara nasional.
3.    Program bala cadangan. Program ini menangani pembinaan kekuatan cadangan dengan titik berat pada pembentukan satuan tempur, angkutan, dan personalia militer cadangan golongan perwira.
4.    Program intelijen dan komunikasi terpusat. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan intelijen strategi dan komunikasi strategi.
5.    Program angkutan terpusat. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pemindahan-pemindahan strategik.
b. Subsektor kekuatan keamanan
Subsektor ini, meliputi program-program berikut ini.
1)    Program kepolisian daerah. Program ini melaksanakan pembinaan kemampuan kepolisian daerah.
2)    Program kepolisian pusat. Program ini untuk membina kepolisian pusat.
3)    Program angkutan terpusat. Program ini untuk peningkatan angkutan strategik Polisi.
4)    Program bantuan keamanan masyarakat. Program ini untuk pembinaan kekuatan bantuan keamanan masyarakat pada peningkatan pembentukan berbagai jenis kepolisian khusus baik pemerintah maupun swasta.
5)    Program intelijen kepolisian. Program ini untuk meningkatkan kemampuan intelijen kepolisian.
c. Subsektor dukungan umum
Subsektor ini meliputi program-program sebagai berikut.
1)    Program penelitian dan pengembangan. Program ini, dimaksudkan untuk meningkatkan penelitian dan pengembangan, antara lain penyempurnaan doktrin Hankamnas serta kerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian lain.
2)    Program pembekalan dan pemeriharaan terpusat. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan pembekalan dan pemeliharaan terpusat, seperti produksi senjata ringan, amunisi, bahan-bahan peledak, alat-alat perhubungan, bekal perang, perbaikan berat, dan modifikasi alat tempur.
3)    Program pendidikan, kesehatan dan kegiatan umum personalia. Program ini untuk meningkatkan kemampuan personalia melalui pendidikan kejuruan/keahlian, pendidikan pembentukan personalia, demiliterisasikan pegawai sipil, pendidikan perawatan personalia, penyaluran personalia.
4)    Program administrasi dan manajemen. Program ini untuk meningkatkan kemampuan administrasi dan manajemen.
d. Subsektor Bakto ABRI
Subsektor ini terdiri dari program bakti ABRI yang mencakup peningkatan operasi bakti.
2.    Penggunaan Kekuatan
Pola dasar penggunaan kekuatan Hankamnas secara umum diperlukan untuk suatu operasi tentang tepatnya kekuatan dan kelemahan. Segi yang kuat dijadikan pancangan kaki dan dimanfaatkan seoptimal mungkin dengan memberikan kekuatan kepada segi yang lemah untuk diperbaiki dan diperkuat sehingga lambat laun dapat diperoleh kekuatan nasional yang seimbang dan serasi. Dengan demikian, politik dan strategi Hankamnas akan memperhatikan dan berpijak kepada situasi dan kondisi kekuatan yang riil.
Pola dasar penggunaan kekuatan Hankamnas yang ditujukan ke dalam mencakup kegiatan sebagai berikut:
A.    Persuasi
Persuasi adalah suatu bentuk pengaruh sosial. Persuasi adalah proses membimbing diri sendiri atau yang lain terhadap adopsi ide, sikap, atau tindakan dengan cara rasional dan simbolik
B.    Ancaman Langsung
jika car persuasive kurang berhasil maka diadakan ancaman-ancaman langsung serta diiringi dengan tindakan-tindakan preventif secukupnya sehingga situasi dapat dikendalikan
C.    Penghancuran
hal ini merupakan tindakan yang terpaksa setelah ditempuh semua jalan
3.    KESIMPULAN DAN RANGKUMAN
Politik Hankamnas ialah asas, haluan, usaha serta kebijaksanaan tindakan negara dalam bidan hankam tentang pembinaan (perencanaan, pengembangan, pemeliharaan, dan pengendalian) serta penggunaan secara totalitas dari potensi nasional untuk mencapai tujuan Hankamnas dalam rangka mencapai tujuan nasional.
Strategi Hankamnas ialah tata cara untuk melaksanakan politik nasional untuk mencapai tujuan Hankamnas.
Pertahanan dan keamanan nasional bertujuan menjamin tetap tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 terhadap segala ancaman baik yang datang dari luar negeri maupun dari dalam negeri dalma rangka mencapai tujuan nasional.
Upaya pertahanan dan keamanan nasional tersebut diwujudkan dalam Sishankamrata yang bersifat kerakyatan, kesemestaan dan kewilayahan.
Dalam upaya mencapai tujuan Hankamnas, yang dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara digunakan landasan pemeliharaan atau prinsip dasar yaitu jaminan terhadap ketidakpastian masa depan, bersandar kepada kemampuan diri sendiri, politik bebas aktif, perdamaian dunia, Wasantara dan sishankamrata saling memperkuat (sinergi) dengan politik strategi bidang-bidang kehidupan lainnya (yang berhubungan dengan masalah-masalah kesejahteraan).
Polstra Hankamnas merupakan bagian integral politik strategi Nasional, Polstra Hankamnas bersifat saling mengisi, saling mendukung dengan Polstra bidang lainnya. Polstra Hankamnas dilandasi oleh ideologi Pancasila dan UUD 1945. Oleh karenanya mengandung prinsip-prinsip, perlindungan seluruh bangsa Indonesia yang berpijak kepada kemampuan diri sendiri. Bangsa Indonesia cinta kepada perdamaian, tetapi lebih cinta kepada kemerdekaan dan kedaulatan.
Perang adalah tindakan yang tidak sesuai dengan Pancasila (tidak berperikemanusiaan). Oleh karena itu, bagi bangsa Indonesia merupakan jalan terakhir, sejauh mungkin konflik/pertentangan diselesaikan dengan cara damai. Kendatipun demikian upaya pertahanan dan keamanan Nasional, harus dibina dan ditingkatkan untuk menghadapi ketidakpastian ancaman yang mungkin timbul yang datang dari dalam atau dari luar.
Oleh karena kita menganut politik luar negeri “bebas aktif” dan berakar pada falsafah Pancasila, maka sistem pertahanan dan keamanan negara keluar bersifat defensif-aktif yang berarti tidak agresif dan ekspansif, dan ke dalam bersifat preventif-aktif yang berarti sedini mungkin mengambil langkah-langkah dan tindakan guna mencegah dan mengatasi setiap kemungkinan timbulnya ancaman. Untuk melaksanakan politik hankamnas maka strategi yang ditempuh ialah membangun kekuatan “penangkalan” untuk menghadapi gangguan keamanan dalam negeri. Dalam upaya menyusun strategi tersebut dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip; ekonomis dan politis, mencukupi kebutuhan sendiri, dislokasi kekuatan, undang-undang dan doktrin, penelitian pengembangan dan teknologi, dwifungsi ABRI, manajemen dan pemanfaatan peluang.

Mangajar Anak Sopan Santun - Makalah

Cara Mengajarkan Anak Sopan Santun
terkadang kita bertanya bagaimana cara mengajarkan anak sopan santun melihat anak kita bertengkar baik dengan teman sebayanya bagaimana cara mengajarkan anak sopan santun, saudaranya, atau orang lain serta tidak mengakui kesalahannya. Nah, hal ini mungkin akan menjadi sebuah hal yang kurang sopan bagi anak kita, untuk itu, anda sebagai orangtua harus mengerti cara terbaik untuk membuat mereka lebih sopan santun. Terdapat beberapa langkah untuk orangtua agar dapat mengajari anaknya untuk lebih sopan terhadap orang lain. Anak Anda bertengkar dengan adik, sepupu, atau temannya, namun menolak mengakui kesalahannya? Atau, dia enggan meminta maaf? Hal ini memang biasa terjadi, namun Anda tak boleh membiarkannya. Anak perlu diajari untuk bersedia mengakui kesalahan dan meminta maaf.
“Manusia adalah gudangnya kesalahan,” begitu bunyi pepatah bijak. Namun demikian, bukan berarti meminta maaf atas kesalahan menjadi hal mudah, termasuk bagi anak-anak usia sekolah. Agar anak mau meminta maaf, berikut 6 langkah yang dapat orangtua terapkan pada anak.


1. Beri kesempatan pada anak untuk mengungkapkan masalahnya.
Galilah dari diri anak apa yang membuatnya tidak mau/menolak meminta maaf. Baik orangtua maupun guru harus bersikap netral, tidak berpihak kepada pelaku ataupun korban. Jika berpihak, dikhawatirkan pemulihan hubungan keduanya akan semakin sulit.


2. Tidak memaksa anak meminta maaf.
Sering dijumpai orangtua yang memaksa anaknya untuk minta maaf, ” Ayo, kamu minta maaf sekarang sama adik!” Sebetulnya, cara seperti ini tidak benar dan dapat menekan anak. Semakin dipaksa untuk meminta maaf, semakin sulit bagi anak untuk melakukannya. Karena paksaan merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan maka hal itu tak akan diulangi lagi. Atau, kalaupun mau, anak akan meminta maaf dengan terpaksa, tidak tulus.


3. Tumbuhkan empati pada anak.
Cara terbaik dengan menumbuhkan empatinya. “Kamu sudah memukul adik seperti itu. Coba, kamu pikirkan kalau kamu yang diperlukan seperti itu, bagaimana rasanya?” Mungkin anak tidak akan langsung menjawab atau berkomentar saat itu juga dengan mengatakan, “Tidak enak”, misalnya. Tapi setidaknya anak tahu, perbuatannya telah membuat orang lain menderita, terganggu, atau tersakiti.

Anda harus bisa memahami, perbuatannya itu tidak baik. Dia juga harusmerasakan apa yang orang lain rasakan. Anak harus melihat dampak yang dia lakukan pada anak lain, bagaimana perasaan orang tersebut, dan sebagainya.


4. Berikan dorongan
Contoh, “Ibu akan senang kalau kamu mendengarkan keluhan orang lain dan kamu mau mengubah perilakumu. Ibu berharap kamu juga bisa meminta maaf atas perbuatan yang sudah kamu lakukan pada temanmu.” Harapan semacam ini tidak memberi kesan memaksa dan sok berkuasa, melainkan mengajari anak untuk bersikap terbuka dan membuatnya berpikir. Apalagi di usia ini anak sudah bisa diajak berpikir mengenai konsekuensi.


5. Kenalkan aneka cara meminta maaf
Ada berbagai cara meminta maaf, baik secara langsung maupun tidak. Ada yang lewat salaman tangan, rangkulan, sentuhan, dan cara lainnya, atau yang terbaru dengan SMS, e-mail, chat, komentar maaf di jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, dan lain-lain.



Anak tahu mana yang paling tepat dan cocok. Biasanya dengan dibebaskan mengemukakan pendapatnya, anak akan menemukan banyak ide. Kecuali jika anak memang tak tahu caranya, maka orangtua mempunyai kesempatan untuk memberi masukan.


6. Beri toleransi waktu
Hindari menyuruh anak meminta maaf di saat itu juga. Orangtua memang harus menunggu hingga anak mau melakukannya dengan tulus tanpa terpaksa. Selanjutnya, jika anak sudah siap, orangtua bisa menjadi perantara, membantu anak untuk meminta maaf dan mendamaikan kedua anak yang berseteru.


Para ahli mengingatkan, ajari anak tata krama sedini mungkin. Jangan tunggu hingga anak besar karena bisa berabe. Bagaimana memulainya ?


Tentunya para orang tua akan bangga jika dikatakan bahwa anaknya sangat sopan. Namun sebaliknya, jika anaknya dicap sebagai tak tahu aturan, tentunya sebagai orang tuanya Anda sangat sedih, bukan? Bagaimana mengajari si kecil agar ia bisa berlalu sopan?


Menurut psikolog Hera L. Mikarsa, Ph.D , mengajari sopan santun atau tata krama sebaiknya dilakukan sejak dini. “Bisa dimulai sejak ia berusia 1 atau 1,5 tahun. Saat ia mulai mengerti. “Jadi, jangan tunggu hingga ia besar. Sebab kala ia sudah besar, tentunya ia sudah punya kebiasaan tertentu. Akan memakan waktu lama untuk mengubahnya.”


TEGURAN DAN PUJIAN

Orang tua juga harus terus mengingatkan. Karena si kecil daya ingatnya sangat terbatas. Sehingga ia mudah lupa atas larangan dan anjuran yang diterapkan. Jadi, jangan terkejut jika mereka banyak melanggarnya. Bersabarlah dan jangan bosan-bosan untuk terus mengingatkannya, sampai hal ini menjadi suatu kebiasaan.


Jika ia lupa mengucapkan kata ‘tolong’, tanyakan ‘coba apa kata ajaib yang harus diucapkan kalau meminta sesuatu pada orang lain?’ kalau ia tak bisa juga mengingatnya, jawablah sendiri kata tersebut sehingga ia sadar bahwa kata itu sangat penting. Dan kalau kebiasaan baik itu dibiasakan sejak kecil, kala dewasa akan dengan secara otomatis terucap.


Hasil didikan orang tua ini biasanya akan terlihat saat anak mulai bersosialisasi keluar. Dari situ baru kelihatan apakah ia bersikap sopan atau urakan. Dan karena di usia 2-3 tahun, si kecil juga mulai bermain di luar, orang tua sebaiknya juga mengajarkan tata krama untuk bergaul. Bagaimana ia harussharing saling menunggu giliran. Kalau Lebaran, anak diajarkan bersilaturahmi dan saling minta maaf. Juga diajarkan menghormati orang yang lebih tua. Misalnya, kepada yang tua, bersalamnya dengan cium tangan.


Hera mengakui bahwa anak kecil memang cenderung mengacak-acak rumah orang jika diajak bertamu. Nah, kalau sudah demikian, si orang tua harus mencegahnya. “Jangan didiamkan saja hanya karena merasa enggak enak memarahi anak di rumah orang. Menurut saya tak apa-apa saja anak kecil ditegur, tentunya dengan cara yangacceptable . Daripada ia merusak barang-barang orang lain, kan, lebih malu lagi. Pegangi dia dan dudukkan di sebelah orang tuanya. Kalau ia mulai berkeliaran lagi, segera hentikan.”


Jika hal ini tak efektif, misalnya ia tetap ingin memainkan barang-barang tuan rumah, segera angkat si anak dan pindahkan dia dari tempat yang menarik perhatiannya tersebut. “Alihkan segera perhatiannya, misalnya dengan memberinya mainan kesukaannya. Kalau barang tersebut tak terlihat olehnya lagi, maka biasanya akan segera hilang dari pikirannya.”
Orang tua juga sebaiknya menjelaskan tentang perbedaan aturan di rumah lain. Karena standar kesopanan satu keluarga dengan keluarga lain berbeda. Ada keluarga yang tidak membolehkan memakai sandal dan sepatu di dalam rumah. Sehingga alas kaki itu harus ditinggalkan di luar pintu. Keluarga lain justru membolehkan. “Justru orang tua harus menerangkan perbedaan ini. Untuk memperkaya wawasannya.”

Kalau anak tidak berlaku sopan, misalnya suka meminum minuman si tamu. “Nah, kita harus tegur ia secara tegas tapi lembut bahwa hal itu tidak boleh. Ia harus ambil minumannya di dalam.”

Teguran harus disesuaikan dengan usia dan pribadi anak. Ada anak yang sekali ditegur lantas sudah menangis, tapi ada anak yang cuek saja pada peringatan orang tuanya. “Namun umumnya, di usia batita ini, pelototan mata ibunya saja atau dengan kata-kata ‘Jangan! Awas! Tidak boleh begitu!’, sudah cukup.”


Kalau teguran ini tidak jalan, bisa ditingkatkan dengan ancaman. Misalnya, ‘kalau kamu masih terus begitu, nanti tidak boleh minum susu cokelat.’ Jadi hanya bersifat mengurangi kesenangannya. “Lebih baik tidak dilakukan hukuman fisik karena itu tidak efektif,” ungkap ketua program profesi Fak. Psikologi Universitas Indonesia ini.
Hera juga menyarankan bahwa teguran pada si kecil sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Segera setelah ia melakukan kesalahannya. Sehingga ia bisa menghubungkan hukumannya dengan perbuatannya. Kalau peneguran itu ditunda, misalnya menunggu hingga di dalam rumah, ia sudah lupa. “Anak kecil cepat melupakan suatu peristiwa. Kalau kita menegurnya atau menghukumnya di lain kesempatan, ia akan bingung, ‘Salah saya apa, sehingga Ibu menghukum saya’. Tapi kalau saat itu juga ditegur, ia akan mengerti, ‘Oh, Ibu tidak suka kalau saya melakukan hal ini.’”


Namun Hera juga mengingatkan bahwa anak seusia batita masih spontan. Kata-katanya kadang begitu terus terang, sehingga kadang ada kata-katanya yang menurut orang tua sangat tidak sopan. Misalnya, ‘Lo, tas Tante, kok, gendut kayak perut Tante.’ “Hal ini biasanya dilakukan tanpa kesengajaan. Hanya karena spontanitas yang biasanya menjadi ciri anak-anak.” Yang disengaja adalah, jika mereka mengucapkan kata-kata tak senonoh untuk mengejek. Misalnya mengolok-olok temannya, dsb. “Tapi biasanya ini terjadi
pada anak di atas usia balita. Kalau anak balita lebih ke tak sengaja.” Kalau sudah demikian, tugas orang tualah yang harus terus mengarahkan si kecil.


Tentunya penghargaan pun harus diberikan padanya jika ia bisa memenuhi standar orang tuanya. Misalnya, kala ia tanpa disuruh dengan sendirinya mengucapkan ‘terima kasih’ pada si tetangga yang memberinya sesuatu. Nah, berilah hadiah. Hadiah ini tidak hanya berupa barang, tapi pujian, pelukan, belaian, elusan di kepalanya pun sudah sudah cukup. “Sebab kalaurewards ini berupa barang, jangan-jangan anak akan berbuat baik hanya agar dapat hadiah saja.”

Senin, 28 Mei 2012

Manajemen Lembaga dan Manajemen

Bab I
Pendahuluan
Manajemen Lembaga dan Manajemen Pembelajaran Berkaitan Dengan Pendidikan Agama Islam di SMA dan SMK
a. Manajemen lembaga
      Tujuan penyelenggaraan pendidikan menengah umum (SMU) dan (SMK) adalah untuk mempersiapkan peserta didik dalam menuju pendidikan tinggi, karena itu fungsinya lebih pada penyiapan siswa dalam kerangka akademik serta dasar–dasar pengetahuan sebagai landasan kuat untuk tumbuhnya sikap dan moral sebagai ilmuan1. Dalam  Islam, pendidikan berasal dari kata “tarbiyah” dan bahasa berasal dari bahasa Arab2, merupakan proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya; proses tersebut dilakukan melalui pendidikan sebagai suatu aktifitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.

      Manajemen menurut  Mary Parker Follet " The art of Getting things Done Through People" yang artinya adalah sebagai proses pencapaian tujuan melalui pendayagunaan sumberdaya manusia dan material secara efisien. Manajemen yang berkenaan dengan pendayaan, sebagai contohnya di sekolah, hal ini tentunya menjadi alternative yang paling tepat untuk mewujudkan sekolah yang mandiri dan memiliki keunggulan tinggi.3Manajemen berasal dari kata " managio" yaitu pengurusan atau "managiare" dalam artian usaha melatih dan mengatur langkah-langkah. Biasanya, manajemen diartikan sebagai ilmu, kiat,  dan profesi.4 Menurut Dale, struktur itu adalah mekanisme organisasi. Pada struktur itulah ditemukan apa yang harus dikerjakan setiap personalia organisasi  dan akan terlihat jelas  implementasinya dalam kegiatan-kegiatan sehari-hari. Manajemen dalam prinsifnya adalah integrasi dan penerapan ilmu serta pendekatan analisa yang dikembangkan oleh berbagai disiplin ilmu. Tiap organisasi ataupun lembaga memerlukan pengambilan keputusan, pengorganisasian aktivitas, penanganan manusia, pembagian tugas  dan wewenang, evaluasi prestasi yang mengarah kepada sasaran kelompok yang semuanya ini sebagai aktivitas manajemen. Inti dari manajemen itu sendiri adalah leadership yaitu kemampuan untuk menggerakkan orang-orang untuk mengikuti pemimpin. Sebagaimana falsafah managemen mengatakan bahwa suatu keseluruhan atau pengetahuan dan kepercayaan yang merupakan dasar yang luas guna mendeterminasikan pemecahan-pemecahan sejumlah problema dalam sebuah lembaga organisasi.


• Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah
      Sesuai dengan aspirasi berbagai kalangan masyarakat, maka proses pembentukan lembaga pembantu di sekolah, maka dengan hadirnya Dewan pendidikan dan Komite Sekolah akan membantu pensosialisasian program dengan perencanaan yang matang. Agar program sosialisasi dapat dilaksanakan di sekolah.5
      Keberadaan Dewan Pendidikan harus bertumpu pada landasan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, kehadirannya harus memperhatikan pembagian peran sesuai posisi dan otonomi yang ada. Adapun peran yang dijalankannya sebagai berikut.


1. Pemberi pertimbangan (advisory body) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan.
2. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan.
3. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan.
4. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) dengan masyarakat.
b. Manajemen Pembelajaran
      Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa manajemen sangat perlu dan menentukan dalam proses belajar dan mengajar. Kenyataan tersebut tentunya menunjukkan bagi kita bahwa peran managemen semakin diperhitungkan dalam membangun pendidikan yang bermutu disekolah. Pendidikan dan latihan selalu cenderung lebih tergantung pada penemuan sains dan oleh karena proses ajar-mengajar telah ditekankan penting seni dan keterampilan. Secara tradisional, organisasi dipandang sebagai cara mengatur sumber-sumber untuk mencapai sejumlah tujuan yang telah ditetapkan.


      Selanjutnya, untuk menentukan tujuan pembelajaran sangat perlu diketahui bagaimana sebenarnya bentuk-bentuk prinsif dalam belajar yang diantaranya adalah :
1. Hal apapun yang dipelajari oleh murid, maka ia harus mempelajari sendiri; dan tidak ada seorang pun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya
2. Setiap murid belajar  menurut tempo (kecepatan)nya sendiri, dan untuk setiap kelompok umur, terdapat variasi dalam kecepatan belajar
3. Seorang murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement)
4. Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkin belajar secara keseluruhan lebih berarti
5. Apabila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia harus lebih termotivasikan untuk belajar, dan menginagi secara baik.
      Sehubungan dengan waktu yang ditetapkan dan kemampuan guru sebagai pengelola selalu terbatas, maka para tenaga pengajar sedapat mungkin mengkonsentrasikan terhadap pelaksanaan pekerjaan dengan meniadakan peranannya yang unik dalam pengoraganisasian sebagai pengelola sumber belajar. Dengan demikian dimungkin untuk mengisolasikan dan mengidentifikasikan empat fungsi umum yang merupakan ciri pekerjaan tenaga pengajar sebagai manager yang dianataranya adalah    :


1. Merencanakan, ini adalah pekerjaan seorang guru untuk menyusun tujuan belajar.
2. Mengorganisasikan, guru berperan untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar, sehingga dapat mewujudkan tujuan belajar dengan cara yang  lebih efektif, efisien dan ekonomis.
3. Memimpin, guru bertugas sebagai motivator untuk mendorong dan menstimulisasikan murid-muridnya sehingga dapat siap untuk mewujukan tujuan belajar
4. Mengawasi, guru bertugas untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengoranisasikan dan memimpin untuk mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan. Jika tujuan belum dapat dicapai, maka guru harus menilai dan mengatur kembali situasi dan bukan mengubah tujuannya. 6
     

      Menurut Harjanto, perencanaan yang komfrenshif dapat diperoleh, maka seyogianya dilaksanakan dalam 6 (enam) tahaf proses yaitu    :Pertama, tahap perencanan meliputi menciptakan,mengadakan badan atau bagian yangbertugas dalam melaksanakan fungsi perencanaan, menetapkan prosedur perencanaan, mengadakan reorganisasi struktural internal administrasi agar dapat berpartisipasi dalam proses perencanaan serta proses implementasinya dan menetapkan mekanisme serta prosedur untuk mengumpulkan dan menganalisa data yang dipergunakan dalam perencanaan. Kedua, tahap perencanaan awal yang terdiri dari aktivitas-aktivitas: (1) Tahap diagnosis yang merupakan membandingkan out put yang diharapkan dengan apa yang telah dicapai sekarang. Tahap ini bertujuan mengetahui apakah rencana telah terlaksana memadai dan relvan. (2) Tahap formulasi rencana, merupakan kebijakan yang memberikan arah kepada upaya memperbaiki kelemahan dan kekurangan suatu rencana. Kebijakan itu perlu dirumuskan secara rinci sehingga merupakan kerangka dasar dalam membuat keputusan yang lebih kecil dan lebih terperinci. Kegiatan merumuskan kebijakan itu dengan menamai formulasi kebijakan dan merupakan fungsi politisi dari mereka yang berwenang dalam organisasi (3)Penilaian kebutuhan merupakan tindak lanjut sesudah kebijakan ditetapkan7

C. Metode-metode Pembelajaran pendidikan Islam di SMU & SMK

      1. Metode Ceramah
      Pengertian dari metode ini yaitu cara menyampaikan suatu pembelajaran tertentu dengan jalan penuturan secara lisan kepada anak didik. Ciri yang menonjol dalam meode ceramah, dalam pelaksanaan pengajaran di Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah peranan guru tampak sangat dominant ketika menyampaikan bahan-bahan pelajaran, penguasaan kelas, mengorganisasikan kegaitan-kegiatan pembelajaran.



      2. Metode Diskusi atau Musyawarah
      Metode diskusi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah, yang mungkin menyangkut kepentingan bersama, dengan jalan musyawarah untuk mufakat memperluas pengetahuan dan cakrawala pemikiran. Sedangkan metode diskusi yaitu cara bagaimana menyajikan bahan pelajaran melalui proses pemeriksaan dengan teliti terhadap suatu masalah tertentu dengan jalan bertukar pikiran, dan memeriksa dengan teliti hubungan yang terdapat dalam setiap masalah yang sedang dibahas. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan membiasakan anak didik untuk mencari jawaban yang benar dan setepat-tepatnya.



      3. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
      Melalui metode ini anak didik akan diperkenalkan dengan alat-lalat peraga (memeragakan), untuk memperjelas suatu pengertian, atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan dan jalannya suatu proses pembutan sesuatu kepada siswa. Metode demostrasi ini dapat dilakukan ketika menyampaikan pelajaran seperti, fiqh ( belajar tata cara berwu'dhu, sembahyang dan lain sebagainya).  Sedangkan metode eksperimen dapat menjelaskan dan menentukan kadar tanah yang akan dipakai ketika melaksanakan tayammum.



      4. Metode Sosiodrama dan Bermain Peranan ( Role Playing Methode)
      Sosiodrama merupakan metode mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial. Pada metode bermain peranan, titik tekannya terletak pada keterliban emosional dan penagatan panca indera ke dalam suatu masalah yang secara nyata dihadapi. Metode ini dipakai di SMU dan SMK dikarena perlunya melatih dan menanamkan kesetiakawanan dan rasa tanggung-jawab terhadap siswa ketika siswa mendapat persoalan dan masalah secara pribadi ataupun ketika bekelompok.



      5. Metode Kelompok Kerja
      Pemakaian metode ini dilaksanakan dalam kelompok kerja siswa yaitu dengan menyajikan materi dimana guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok atau grup tertentu untuk menyelesaikan tugas yang telah ditentukan dengan cara bersama-sama dan bergotong-royong. Metode ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan siswa dan rasa toleransi serta menumbuhkan rasa percaya diri ketika mengapresiasiakan kemampuan diantara kelompoknya.8
F. Keterkaitan Manajemen Lembaga dan Manajemen Pembelajaran dengan pendidikan Islam di SMU dan SMK

      Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa manajemen sangat berperan penting dalam menata dan mengorganisasikan program-program dalam sekolah sehingga target yang ditetapkan dapat tercapai dengan baik. Penerapan manajemen dengan strategis diformulasikan dengan (1) menetapkan tugas utama yang dengan melibatkan perangkat-perangkat sekolah (2) melakukan assessment lingkungan sekolah yaitu dengan memperhatikan kondisi yang terjadi dan kemungkinan-kemungkinan perubahan yang akan terjadi termasuk perkembangan organisatoris. (3) Menetapkan arah dan sasaran9 .
      Melihat melihat uraian tentang manajemen dan lembaga keorganisasian di sekolah, seperti sekolah menengah Umum ( SMK) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) nampak jelas bahwa adanya keterikatan dan hubungan antara manajemen lembaga dan pembelajaran pendidikan Islam di SMU dan SMK. Hal tersebut dapat dilihat pada :


1. Visi Pembelajaran10
2. Misi Pembelajaran
3. Tujuan Pembelajaran
      Melihat 3 (tiga) tujuan pendidikan tersebut dan sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD tahun 1945 pasal 3 tentang pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat  dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokrasi serta bertanggungjawab.11Kemudian diterangkan kembali pada pasal 12 Bab V bahwa setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan sesuai dengan pendidikan yang beragama.



      Pendidikan agama Islam yang diajarkan disekolah sebagaimana dengan keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan bahwa di sekolah-sekolah negeripendidikan agama Islam diajar selama 120 menit (2 jam) dalam setiap minggu12.
      Dari berbagai uraikan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan nasional telah dimanajemen, baik secara lembaga dan pembelajaran tentang menempatkan pendidikan agama Islam di sekolah SMU dan SMK juga sekolah-sekolah yang sederajatnya. Pendidikan dan pembelajaran di sekolah SMU dan SMK disesuaikan dengan agama dan kepercayaan masing-masing para siswa.
Daftar Pustaka
      Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia .Jakarta: Prenada Media, 2003
      Depertemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia,Undang  Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2003: Tentang Sistem Pendidikan Nasional.Jakarta, 2003
      Haidar Putra Daulay,Pendidikan Islam: Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia (Jakarta:Kencana, 2005
      Harjanto,Perencanaan pengajaran: Komponen MKDK Materi Disesuaikan dengan Silabi Kurikulum Nasional IAIN(Jakarta:rineka Cipta, 2005
      Ivor K. Davies,Pengelolaan Belajar: Seri Pustaka  Teknologi Pendidikan No.8 .Jakarta: Rajwali Pers, 1986
      Syaiful Sagala,manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan:Membuka rungan kreativitas, inovasi dan perdayaan potensi sekolah dalam system otonomi sekolah.Bandung:ALPABETA, 2006
_______Administrasi Pendidikan Kontemporer.bandung:AlPABETA, 2005
      Tayar Yusuf dan Syaiful Anwat,Metodologi Mengajar Agama dan Bahasa Arab(Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1995
       www.Google.Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Jalan R.S. Fatmawati, Cipete - PO.BOX  12001, Jakarta Selatan
______depdiknas
     
Manajemen Lembaga dan Manajemen Pembelajaran Berkaitan Dengan Pendidikan Agama Islam di SMA dan SMK

Makalah Diajukan Untuk tugas terstruktur pada mata kulliah

Manajemen Kelembagaan Islam


Oleh
Marintan Lubis
06 PEDI 980

Dosen Pembimbing

Prof. DR. H. Haidar Putra Daulay, M.A.
DR. H. Syaiful Sagala, M.Pd.



PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN
2007

     
     
            .Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Jalan R.S. Fatmawati, Cipete - PO.BOX  12001, Jakarta Selatan
            2Dalam literatur Arab, selain istilah tarbiyah juga terdapat istilah-istilah  ta’dib, ta’lim, tadris, tadzkiyah dan tadzkirah. Secara keseluruhan, semua istilah tersebut menghimpun seluruh kegiatan yang terdapat dalam pendidikan, yaitu membina, memelihara, mengajarkan, menyucikan jiwa dan mengingatkan manusia terhadap hal-hal yang baik. Lebih lanjut lihat Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 9.
            3Syaiful Sagala,manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan:Membuka rungan kreativitas, inovasi dan perdayaan potensi sekolah dalam system otonomi sekolah(Bandung:ALPABETA, 2006),h.48
            4Ibid,h.50
            5Ibid. www.depdiknas.go.id
            6Ivor K. Davies,Pengelolaan Belajar: Seri Pustaka  Teknologi Pendidikan No.8 (Jakarta: Rajwali Pers, 1986),h.35-36
            7Harjanto,Perencanaan pengajaran: Komponen MKDK Materi Disesuaikan dengan Silabi Kurikulum Nasional IAIN(Jakarta:rineka Cipta, 2005),h.17.Kebijakan yang ditetapakan  tersebut meliputi (a) Jumlah orang yang perlu mendapatkan layanan dlam merencanakan syarat-syarat kualitatifnya (b) Jumlah dan besarnya lembaga atau program yang diperlukan; (c) Jumlah, kompensasi dan syarat pekerjaan dari seorang yang akan mengorganisasikan dan melaksanakan rencana tersebut (d) jumlah dan kualitas bahan, sarana dan alat-alat yang diperlukan (e)Jumlah dan kulaitas mobilier dan alat-alat lainnya (f)jumlah dana yang perlukan untuk haji, upah dan beasiswa (g) jumlah dan kualitas laying pendukung dan sebagaimanya. Pada tahap ini, perencanaan baru pada tiap tahap investarisasi sumber manusia dan material yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan yang ada. Dalam perhitungan biaya, berdasarkan data biaya tahun sebelumnya, tiap butir kebutuhan dihitung biayanya dengan memperhitungkan  fluktuasi kerja. Jika perhitungan biaya telah selesai, perencanaan dapat mengetahui, jumlah keseluhan biaya yang dibutuhkan untuk keseluruhan program. Penentuan target, merupakan aktivitas perencanaan untuk mengkaji dan meneliti kebutuhan yang telah diidentifikasikan dan menetapkan prioritas program serta menetapkan tingkat pencapaian yang realistic dari tujuan yang ditetapkan
            8Tayar Yusuf dan Syaiful Anwat,Metodologi Mengajar Agama dan Bahasa Arab(Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1995),41-58. (6) Metode Tanya jawad yaitu : suatu cara menyamapaikan materi pelajaran dengan jalan guru mengajukan suatu pertanyan-pertanyaan kepada siswa untuk dijawab atau siswa boleh memberikan pertanyaan kepada siswa lainnya dan guru akan mengarahkannya apabila pertanyaan tidak tepat sasaran. (7) Metode Latihan siap (drill) pengertiannya sering dikacaukan dengan istilah "ulangan". Padahal maksudnya keduanya berbeda.


 Latihan siap simaksudkan agar pengetahuan kecakapan siswa tertentu dapat menjadi miliknya dan betul-betul dikuasai oleh siswa. (8)Metode pemberian tugas (resitasi) yaitu siswa mengutip atau mengambil sendiri bagian-bagian pelajaran itu dari buku-buku tertentu, kemudian siswa belajar dan berlatih sendiri sampai siswa menyelesaikan tugasnya. Metode ini sering dikenal dengan istilah PR (pekerjaan rumah) (9) Sistem regu (team teaching) yaitu cara menyajikan bahan pelajaran dimana dua orang guru atau lebih bekerjasama untuk mengajar suatu kelompok siswa (10) Metode insersi (sisipan) merupakan metode yang baru diperkenalkan dengan menyajikan bahan atau materi pelajaran dengan cara;inti sari ajaran-ajaran Islam atau jiwa agama/emosi religius disisipkan di dalam mata pelajaran umum (11) Metode Menyelubung atau membungkus dengan cara menyajikan bahan/materi pelajaran agama atau hikmah keimanan dan sebagainya, sengaja dibungkus atau diselubungi dengan bentuk lain, misalnya kisah cerita atau dengan ilmu lain seperti sejarah, ilmu sekuler
            9Sagala,manajemen Strategik,h.132
            10Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer(bandung:AlPABETA, 2005),h.126Menurut Osborme dan Gaebler reinventing pemerintahan wirausaha tentang tekhnis manajemen pembelajaran disekolah yaitu : Mengarahkan ketimbang mengayuh, memberi wewenang ketimbang melayani, memotivasi persaingan kedalam bentuk pelayanan, pemerintahan yang dengan berbagai misi, pemerintahan yang berorientasi kepada hasil, memenuhi kebutuhan peserta didik bukan hanya peserta didik, menghasilkan dan bukan membelanjakan, mengantisivasi, mengangkat perubahan melalui pasar untuk memenuhi dan mengikuti berbagai perubahan
            11Depertemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia,Undang  Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2003: Tentang Sistem Pendidikan Nasional(Jakarta, 2003),h.8
            12Haidar Putra Daulay,Pendidikan Islam: Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia (Jakarta:Kencana, 2005),h.38



Contoh Surat Pernyataan


SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini saya :
            Nama               : Lala
            Nim                 : 2553669887

Dengan ini saya menyatakan bahwa saya tidak akan   membawa HP lagi di lingkungan Asrama STIkes Cut Nyak Dhien Langsa, apabila saya ketahuan membawa HP lagi saya bersedia menerima sangsi yang di berlakukan di dalam Asrama STIkes Cut Nyak Dhien Langsa.
Demikian surat pernyataan ini saya buat, kurang lebihnya saya minta maaf.








Hormat Saya



LALA

Nidasi

Nidasi
Nidasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium. Blastula diselubungi oleh sutu sampai disebut trofoblas, yang mampu menghancurkan dan mencairkan jaringan. Ketika blastula mencapai rongga rahim, jaringan endometrium berada dalam masa sekresi. Jaringan endometrium ini banyak mengandung sel – sel desidua yaitu sel – sel besar yang mengandung banyak glikogen serta mudah dihancurkan oleh trofoblas. Blastula dengan bagian yang berisi massa sel dalam (inner cell mass) akan mudah masuk kedalam desidua, menyebabkan luka kecil yang kemudian sembuh dan menutup lagi.

Itulah sebabnya kadang – kadang pada saat nidasi terjadi sedikit perdarahan akibat luka desidua (tanda Hartman). Umumnya nidasi terjadi pada depan atau belakang rahim (korpus) dekat fundus uteri. Bila nidasi telah terjadi , dimulailah diferensiasi sel – sel blastula. Sel lebih kecil yang terletak dekat ruang exocoeloma membentuk entoderm dan yolk sac sedangkan sel – sel yang tumbuh besar menjadi entoderm dan membentuk ruang amnion. Maka terbentuklah suatu lempeng embrional (embrional plate) diantara amnion dan yolk sac.

Sel – sel trofoblas mesodermal yang tumbuh disekitar mudigah (embrio) akan melapisi bagian dalam trofoblas. Maka terbentuklah sekat korionik (chorionik membrane) yang kelak menjadi korion. Sel- sel trofoblas tumbuh menjadi dua lapisan yaitu sitotrofoblas (sebelah dalam) dan sinsitio trofoblas (sebelah luar)
Villi koriales yang berhubungan dengan desidua basalis tumbuh bercabang – cabang dan disebut korion krondosum sedangkan yang berhubungan dengan desidua kapsularis kurang mendapat makanan sehingga akhirnya menghilang disebut chorion leave.
Dalam peringkat nidasi trofoblas dihasilkan hormon – hormon chorionic gonadotropin (HCG). (Rustam Mochtar, 1998 : 19-21)

Plasenta

PLASENTA
Setelah minggu pertama (hari 7-8), sel-sel trofoblas yang terletak di atas embrioblas yang berimplantasi di endometrium dinding uterus, mengadakan proliferasi dan berdiferensiasi menjadi dua lapis yang berbeda :
1.    sitotrofoblas : terdiri dari selapis sel kuboid, batas jelas, inti tunggal, di sebelah dalam (dekat embrioblas).
2.    sinsitiotrofoblas : terdiri dari selapis sel tanpa batas jelas, di sebelah luar (berhubungan dengan stroma endometrium).
Unit trofoblas ini akan berkembang menjadi PLASENTA
Di antara massa embrioblas dengan lapisan sitotrofoblas terbentuk suatu celah yang makin lama makin besar, yang nantinya akan menjadi RONGGA AMNION. Sel-sel embrioblas juga berdiferensiasi menjadi dua lapis yang berbeda :
1.    epiblas : selapis sel kolumnar tinggi, di bagian dalam, berbatasan dengan bakal rongga amnion.
2.    Hipoblas: selapis sel kuboid kecil, di bagian luar, berbatasan dengan rongga blastokista (bakal rongga kuning telur).
Unit sel-sel blast ini akan berkembang menjadi JANIN.
Pada kutub embrional, sel-sel dari hipoblas membentuk selaput tipis yang membatasi bagian dalam sitotrofoblas (selaput Heuser). Selaput ini bersama dengan hipoblas membentuk dinding bakal yolk sac (kandung kuning telur). Rongga yang terjadi disebut rongga eksoselom (exocoelomic space) atau kandung kuning telur sederhana.
Dari struktur-struktur tersebut kemudian akan terbentuk KANDUNG KUNING TELUR, LEMPENG KORION dan RONGGA KORION.
Pada lokasi bekas implantasi blastokista di permukaan dinding uterus terbentuk lapisan fibrin sebagai bagian dari proses penyembuhan luka.
Jaringan endometrium di sekitar blastokista yang berimplantasi mengalami reaksi desidua, berupa hipersekresi, peningkatan lemak dan glikogen, serta edema. Selanjutnya endometrium yang berubah di daerah-daerah sekitar implantasi blastokista itu disebut sebagai desidua. Perubahan ini kemudian meluas ke seluruh bagian endometrium dalam kavum uteri (selanjutnya lihat bagian selaput janin)
Pada stadium ini, zigot disebut berada dalam stadium bilaminar (cakram berlapis dua).

PLASENTA
Pembentukan plasenta
Pada hari 8-9, perkembangan trofoblas sangat cepat, dari selapis sel tumbuh menjadi berlapis-lapis. Terbentuk rongga-rongga vakuola yang banyak pada lapisan sinsitiotrofoblas (selanjutnya disebut sinsitium) yang akhirnya saling berhubungan. Stadium ini disebut stadium berongga (lacunar stage).


Pertumbuhan sinsitium ke dalam stroma endometrium makin dalam kemudian terjadi perusakan endotel kapiler di sekitarnya, sehingga rongga-rongga sinsitium (sistem lakuna) tersebut dialiri masuk oleh darah ibu, membentuk sinusoid-sinusoid. Peristiwa ini menjadi awal terbentuknya sistem sirkulasi uteroplasenta / sistem sirkulasi feto-maternal.
Sementara itu, di antara lapisan dalam sitotrofoblas dengan selapis sel selaput Heuser, terbentuk sekelompok sel baru yang berasal dari trofoblas dan membentuk jaringan penyambung yang lembut, yang disebut mesoderm ekstraembrional.
Bagian yang berbatasan dengan sitotrofoblas disebut mesoderm ekstraembrional somatopleural, kemudian akan menjadi selaput korion (chorionic plate).
Bagian yang berbatasan dengan selaput Heuser dan menutupi bakal yolk sac disebut mesoderm ekstraembrional splanknopleural.


Menjelang akhir minggu kedua (hari 13-14), seluruh lingkaran blastokista telah terbenam dalam uterus dan diliputi pertumbuhan trofoblas yang telah dialiri darah ibu.
Meski demikian, hanya sistem trofoblas di daerah dekat embrioblas saja yang berkembang lebih aktif dibandingkan daerah lainnya.
Di dalam lapisan mesoderm ekstraembrional juga terbentuk celah-celah yang makin lama makin besar dan bersatu, sehingga terjadilah rongga yang memisahkan kandung kuning telur makin jauh dari sitotrofoblas. Rongga ini disebut rongga selom ekstraembrional (extraembryonal coelomic space) atau rongga korion (chorionic space) .
Di sisi embrioblas (kutub embrional), tampak sel-sel kuboid lapisan sitotrofoblas mengadakan invasi ke arah lapisan sinsitium, membentuk sekelompok sel yang dikelilingi sinsitium disebut jonjot-jonjot primer (primary stem villi). Jonjot ini memanjang sampai bertemu dengan aliran darah ibu.


Pada awal minggu ketiga, mesoderm ekstraembrional somatopleural yang terdapat di bawah jonjot-jonjot primer (bagian dari selaput korion di daerah kutub embrional), ikut menginvasi ke dalam jonjot sehingga membentuk jonjot sekunder (secondary stem villi) yang terdiri dari inti mesoderm dilapisi selapis sel sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas.
Menjelang akhir minggu ketiga, dengan karakteristik angiogenik yang dimilikinya, mesoderm dalam jonjot tersebut berdiferensiasi menjadi sel darah dan pembuluh kapiler, sehingga jonjot yang tadinya hanya selular kemudian menjadi suatu jaringan vaskular (disebut jonjot tersier / tertiary stem villi) (selanjutnya lihat bagian selaput janin).
Selom ekstraembrional / rongga korion makin lama makin luas, sehingga jaringan embrional makin terpisah dari sitotrofoblas / selaput korion, hanya dihubungkan oleh sedikit jaringan mesoderm yang kemudian menjadi tangkai penghubung (connecting stalk).
Mesoderm connecting stalk yang juga memiliki kemampuan angiogenik, kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan connecting stalk tersebut akan menjadi TALI PUSAT..
Setelah infiltrasi pembuluh darah trofoblas ke dalam sirkulasi uterus, seiring dengan perkembangan trofoblas menjadi plasenta dewasa, terbentuklah komponen sirkulasi utero-plasenta.


Melalui pembuluh darah tali pusat, sirkulasi utero-plasenta dihubungkan dengan sirkulasi janin. Meskipun demikian, darah ibu dan darah janin tetap tidak bercampur menjadi satu (disebut sistem hemochorial), tetap terpisah oleh dinding pembuluh darah janin dan lapisan korion.


Dengan demikian, komponen sirkulasi dari ibu (maternal) berhubungan dengan komponen sirkulasi dari janin (fetal) melalui plasenta dan tali pusat. Sistem tersebut dinamakan sirkulasi feto-maternal.

Plasenta "dewasa"
Pertumbuhan plasenta makin lama makin besar dan luas, umumnya mencapai pembentukan lengkap pada usia kehamilan sekitar 16 minggu.
Plasenta "dewasa" / lengkap yang normal :
1.    bentuk bundar / oval
2.    diameter 15-25 cm, tebal 3-5 cm.
3.    berat rata-rata 500-600 g
4.    insersi tali pusat (tempat berhubungan dengan plasenta) dapat di tengah / sentralis, di samping / lateralis, atau di ujung tepi / marginalis.
5.    di sisi ibu, tampak daerah2 yang agak menonjol (kotiledon) yang diliputi selaput tipis desidua basalis.
6.    di sisi janin, tampak sejumlah arteri dan vena besar (pembuluh korion) menuju tali pusat. Korion diliputi oleh amnion.
7.    sirkulasi darah ibu di plasenta sekitar 300 cc/menit (20 minggu) meningkat sampai 600-700 cc/menit (aterm).
CATATAN : pada kehamilan multipel / kembar, dapat terjadi variasi jumlah dan ukuran plasenta dan selaput janin.
Fungsi plasenta
PRINSIP : Fungsi plasenta adalah menjamin kehidupan dan pertumbuhan janin yang baik.
1.    Nutrisi : memberikan bahan makanan pada janin
2.    Ekskresi : mengalirkan keluar sisa metabolisme janin
3.    Respirasi : memberikan O2 dan mengeluarkan CO2 janin
4.    Endokrin : menghasilkan hormon-hormon : hCG, HPL, estrogen,progesteron, dan sebagainya (cari / baca sendiri).
5.    Imunologi : menyalurkan berbagai komponen antibodi ke janin
6.    Farmakologi : menyalurkan obat-obatan yang mungkin diperlukan janin, yang diberikan melalui ibu.
7.    Proteksi : barrier terhadap infeksi bakteri dan virus, zat-zat toksik (tetapi akhir2 ini diragukan, karena pada kenyataanya janin sangat mudah terpapar infeksi / intoksikasi yang dialami ibunya).

TALI PUSAT
Mesoderm connecting stalk yang juga memiliki kemampuan angiogenik, kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan connecting stalk tersebut akan menjadi TALI PUSAT.
Pada tahap awal perkembangan, rongga perut masih terlalu kecil untuk usus yang berkembang, sehingga sebagian usus terdesak ke dalam rongga selom ekstraembrional pada tali pusat. Pada sekitar akhir bulan ketiga, penonjolan lengkung usus (intestional loop) ini masuk kembali ke dalam rongga abdomen janin yang telah membesar.
Kandung kuning telur (yolk-sac) dan tangkai kandung kuning telur (ductus vitellinus) yang terletak dalam rongga korion, yang juga tercakup dalam connecting stalk, juga tertutup bersamaan dengan proses semakin bersatunya amnion dengan korion.
Setelah struktur lengkung usus, kandung kuning telur dan duktus vitellinus menghilang, tali pusat akhirnya hanya mengandung pembuluh darah umbilikal (2 arteri umbilikalis dan 1 vena umbilikalis) yang menghubungkan sirkulasi janin dengan plasenta. Pembuluh darah umbilikal ini diliputi oleh mukopolisakarida yang disebut Wharton’s jelly.
SELAPUT JANIN (AMNION & KARION)
Pada minggu-minggu pertama perkembangan, villi / jonjot meliputi seluruh lingkaran permukaan korion.


Dengan berlanjutnya kehamilan :
1.    jonjot pada kutub embrional membentuk struktur korion lebat seperti semak-semak (chorion frondosum) sementara
2.    jonjot pada kutub abembrional mengalami degenerasi, menjadi tipis dan halus disebut chorion laeve.
Seluruh jaringan endometrium yang telah mengalami reaksi desidua, juga mencerminkan perbedaan pada kutub embrional dan abembrional :
1.    desidua di atas korion frondosum menjadi desidua basalis
2.    desidua yang meliputi embrioblas / kantong janin di atas korion laeve menjadi desidua kapsularis.
3.    desidua di sisi / bagian uterus yang abembrional menjadi desidua parietalis.
Antara membran korion dengan membran amnion terdapat rongga korion. Dengan berlanjutnya kehamilan, rongga ini tertutup akibat persatuan membran amnion dan membran korion. Selaput janin selanjutnya disebut sebagai membran korion-amnion (amniochorionic membrane).
Kavum uteri juga terisi oleh konsepsi sehingga tertutup oleh persatuan chorion laeve dengan desidua parietalis.

CAIRAN AMNION

Rongga yang diliputi selaput janin disebut sebagai RONGGA AMNION. Di dalam ruangan ini terdapat cairan amnion (likuor amnii).
Asal cairan amnion : diperkirakan terutama disekresi oleh dinding selaput amnion / plasenta, kemudian setelah sistem urinarius janin terbentuk, urine janin yang diproduksi juga dikeluarkan ke dalam rongga amnion.
Fungsi cairan amnion :
1.    Proteksi : melindungi janin terhadap trauma dari luar
2.    Mobilisasi : memungkinkan ruang gerak bagi janin
3.    Homeostasis : menjaga keseimbangan suhu dan lingkungan asam-basa (pH) dalam rongga amnion, untuk suasana lingkungan yang optimal bagi janin.
4.    Mekanik : menjaga keseimbangan tekanan dalam seluruh ruangan intrauterin (terutama pada persalinan).
5.    Pada persalinan : membersihkan / melicinkan jalan lahir, dengan cairan yang steril, sehingga melindungi bayi dari kemungkinan infeksi jalan lahir.
Keadaan normal cairan amnion :
1.    pada usia kehamilan cukup bulan, volume 1000-1500 cc.
2.    keadaan jernih agak keruh
3.    steril
4.    bau khas, agak manis dan amis
5.    terdiri dari 98-99% air, 1-2% garam-garam anorganik dan bahan organik (protein terutama albumin), runtuhan rambut lanugo, vernix caseosa dan sel-sel epitel.
6.    sirkulasi sekitar 500 cc/jam

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat.

PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga Sehat

PHBS adalah sekumpulan kegiatan perilaku seseorang dalam kegaiatan sehari-hari dengan berpedoman pada perilaku yang sehat yaiatu dintaranya :

1.     pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan

2.     memberikan bayi hanya ASI saja dari 0 bln sampai dengan umur 6 bln

3.     menimbang bayi dan balitanya di posyandu

4.     menggunakan air bersih dalam kebiasaan sehar-hari

5.    mencuci tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun

6.     menggunakan jamban kalau buang air besar

7.     memberantas jentik nyamuk

8.     makan buah-buahan dan sayuran tiap hari

9.    melakukan aktifitas fisik secara teratur dan terperogram/ olahraga

10.     tidak merokok

Fisiologi Proses Persalinan Normal


Fisiologi Proses Persalinan Normal

Adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari dalam uterus melalui vagina atau jalan lain ke dunia luar.
Partus normal / partus biasa

Bayi lahir melalui vagina dengan letak belakang kepala / ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat / pertolongan istimewa, serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi), berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.
Partus abnormal

Bayi lahir melalui vagina dengan bantuan tindakan atau alat seperti versi / ekstraksi, cunam, vakum, dekapitasi, embriotomi dan sebagainya, atau lahir per abdominam dengan sectio cesarea.

Beberapa istilah
Gravida : wanita yang sedang hamil
Para : wanita pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable)
In partu : wanita yang sedang berada dalam proses persalinan
SEBAB TERJADINYA PROSES PERSALINAN
1. Penurunan fungsi plasenta : kadar progesteron dan estrogen menurun mendadak, nutrisi janin dari plasenta berkurang.
(pada diagram, dari Lancet, kok estrogen meningkat ?)
2. Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser, menjadi stimulasi (pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus.
3. Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, semakin merangsang terjadinya kontraksi.
4. Peningkatan beban / stress pada maternal maupun fetal dan peningkatan estrogen mengakibatkan peningkatan aktifitas kortison, prostaglandin, oksitosin, menjadi pencetus rangsangan untuk proses persalinan (DIAGRAM)
PERSALINAN DITENTUKAN OLEH 3 FAKTOR “P” UTAMA
Power
His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, keadaan kardiovaskular respirasi metabolik ibu.
Passage
Keadaan jalan lahir
Passanger
Keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik mayor)
(++ faktor2 “P” lainnya : psychology, physician, position)
Dengan adanya keseimbangan / kesesuaian antara faktor-faktor “P” tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung.
PEMBAGIAN FASE / KALA PERSALINAN
Kala 1
Pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala pembukaan)

Kala 2
Pengeluaran bayi (kala pengeluaran)

Kala 3
Pengeluaran plasenta (kala uri)

Kala 4
Masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi
HIS
His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus uteri di mana tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang tersebut didapat dari ‘pacemaker’ yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut.
Resultante efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris yaitu daerah kanalis servikalis (jalan laihir) yang membuka, untuk mendorong isi uterus ke luar.

Terjadinya his, akibat :
1. kerja hormon oksitosin
2. regangan dinding uterus oleh isi konsepsi 3
3. rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi.
His yang baik dan ideal meliputi :
1. kontraksi simultan simetris di seluruh uterus
2. kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus
3. terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi.
4. terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his
5. serviks uteri yang banyak mengandung kolagen dan kurang mengandung serabut otot,akan tertarik ke atas oleh retraksi otot-otot korpus, kemudian terbuka secara pasif dan mendatar (cervical effacement). Ostium uteri eksternum dan internum pun akan terbuka.
Nyeri persalinan pada waktu his dipengaruhi berbagai faktor :
1. iskemia dinding korpus uteri yang menjadi stimulasi serabut saraf di pleksus hipogastrikus diteruskan ke sistem saraf pusat menjadi sensasi nyeri.
2. peregangan vagina, jaringan lunak dalam rongga panggul dan peritoneum, menjadi rangsang nyeri.
3. keadaan mental pasien (pasien bersalin sering ketakutan, cemas/ anxietas, atau eksitasi).
4. prostaglandin meningkat sebagai respons terhadap stress
Pengukuran kontraksi uterus
1. amplitudo : intensitas kontraksi otot polos : bagian pertama peningkatan agak cepat, bagian kedua penurunan agak lambat.
2. frekuensi : jumlah his dalam waktu tertentu (biasanya per 10 menit).
3. satuan his : unit Montevide (intensitas tekanan / mmHg terhadap frekuensi).
Sifat his pada berbagai fase persalinan
Kala 1 awal (fase laten)
Timbul tiap 10 menit dengan amplitudo 40 mmHg, lama 20-30 detik. Serviks terbuka sampai 3 cm. Frekuensi dan amplitudo terus meningkat.
Kala 1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir
Terjadi peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat sampai 60 mmHg, frekuensi 2-4 kali / 10 menit, lama 60-90 detik. Serviks terbuka sampai lengkap (+10cm).
Kala 2
Amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4 kali / 10 menit. Refleks mengejan terjadi juga akibat stimulasi dari tekanan bagian terbawah janin (pada persalinan normal yaitu kepala) yang menekan anus dan rektum. Tambahan tenaga meneran dari ibu, dengan kontraksi otot-otot dinding abdomen dan diafragma, berusaha untuk mengeluarkan bayi.
Kala 3
Amplitudo 60-80 mmHg, frekuensi kontraksi berkurang, aktifitas uterus menurun. Plasenta dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini, namun dapat juga tetap menempel (retensio) dan memerlukan tindakan aktif (manual aid).
PERSALINAN KALA 1 :
FASE PEMATANGAN / PEMBUKAAN SERVIKS
DIMULAI pada waktu serviks membuka karena his : kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah haid.
BERAKHIR pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I.
Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.
Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar 6 jam. Fase aktif terbagi atas :
1. fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.
2. fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
3. fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).
Peristiwa penting pada persalinan kala 1
1. keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus.
2. ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar.
3. selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm).
Pematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement) pada primigravida berbeda dengan pada multipara :
1. pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih dahulu sebelum terjadi pembukaan – pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan
2. pada primigravida, ostium internum membuka lebih dulu daripada ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah) – pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)
3. periode kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama.

PERSALINAN KALA 2 :
FASE PENGELUARAN BAYI
DIMULAI pada saat pembukaan serviks telah lengkap.
BERAKHIR pada saat bayi telah lahir lengkap.
His menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih lama, sangat kuat.
Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2.
Peristiwa penting pada persalinan kala 2
1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul.
2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat.
3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik)
4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan.
5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi).
Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam.
Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala
1. Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring / membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior / posterior).
2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang.
3. Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala).
4. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis.
5. Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput, bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.
6. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang.
7. Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul / trokanter depan dan belakang, tungkai dan kaki.
PERSALINAN KALA 3 :
FASE PENGELUARAN PLASENTA
DIMULAI pada saat bayi telah lahir lengkap.

BERAKHIR dengan lahirnya plasenta.
Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri.
Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.
Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah.
Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di atas pusat.

Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir.
(jika lepasnya plasenta terjadi sebelum bayi lahir, disebut solusio/abruptio placentae – keadaan gawat darurat obstetrik !!).
KALA 4 :
OBSERVASI PASCAPERSALINAN
Sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan observasi.
7 pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 :
1) kontraksi uterus harus baik,
2) tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain,
3) plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
4) kandung kencing harus kosong,
5) luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma,
6) resume keadaan umum bayi, dan
7) resume keadaan umum ibu.