Jumat, 08 Juni 2012

Sebab Seorang Muslim Diwajibkan Mandi Wajib

SEBAB SEORANG MUSLIM DIWAJIBKAN MANDI WAJIB

Sebab-sebabnya terdiri dari tujuh sebab. Empat sebab melibatkan laki-laki dan perempuan dan tiga sebab lainnya hanya melibatkan perempuan:

Sebab Bagi Perempuan:

1.    Melahirkan anak

2.    Nifas yaitu darah yang keluar ketika melahirkan anak

3.    Keluar darah haid -> perempuan datang bulan. “Jika datang haid, maka tinggalkan solat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan Solatlah” (HR. Al Bukhari)

Sebab Bagi Laki-laki dan Perempuan:

1.    Melakukan hubungan suami istri (jimak) apabila zakar (kemaluan laki-laki) dimasukkan ke dalam faraj (kemaluan perempuan) walaupun tidak keluar air mani.-> berhubungan badan walaupun tanpa disertai keluarnya mani.

2.    Jika keluar air mani walaupun zakar tidak dimasukkan ke dalam faraj. -> keluarnya mani yang disertai syahwat, baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.

3.    Keluar air mani kerana bermimpi (wet dream).

4.    Mati (dimandikan).

5.    Masuk Islam bagi orang yang sebelumnya kafir. Dari Qais bin Ashim, ia menceritakan bahawa ketika ia masuk Islam, Nabi saw menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR. At Tirmidzi dan Abu Dawud)

RUKUN MANDI WAJIB

Rukun mandi ada tiga:

1.    Niat. Niat ini hanya diucapkan di dalam hati dan tidak perlu diucapkan secara lisan.

2.    Menghilangkan kotoran dan najis pada badan. Bila ada najis pada tubuh, membasuhnya bisa berbarengan dengan mandi wajib. Artinya membersihkan najis boleh disatukan dengan mandi wajib.

3.    Meratakan air ke seluruh anggota badan yang zahir (terlihat) termasuk semua lipatan badan. (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah). Meliputi kulit, rambut dan bulu yang ada di badan, sama bulu-bulu yang jarang ataupun lebat.

NIAT MANDI WAJIB

 “Sengaja aku mandi wajib kerana Allah Taala.” Lafaz niat yang lain “Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari janabati fardlal lillaahi ta’aalaa” (Artinya: Sengaja aku mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar dan mandi wajib kerana Allah Taala).

Untuk perempuan yang mandi wajib kerana hadas haid niat mandi wajibnya adalah “Sengaja aku membersihkan hadas haid kerana Allah Taala.”

Sedangkan untuk yang habis nifas, niat mandi wajibnya ialah “Sengaja aku membersihkan hadas nifas kerana Allah Taala”.

Niat mandi wajib hendaklah diucapkan apabila mulai mengenakan air ke bagian anggota mandi.

Bila niat dilafalkan setelah seseorang telah membasuh anggota badannya, mandi wajibnya tidak sah dan dia mesti mengulang kembali niatnya ketika memulai membasuhkan air ke seluruh anggota badannya. Begitupun jika seseorang berniat sebelum air sampai ke badan, niat itu juga tidak sah dan dia harus mengulang kembali niatnya sambil membasuhkan air ke seluruh anggota badannya.

Orang yang tidak berniat mandi wajib tidak memenuhi rukun mandi wajib dan dengan itu tidak boleh dikatakan telah melakukan mandi wajib. Dia hanya sekadar mengerjakan mandi biasa dan masih terikat dengan larangan yang dikenakan untuk orang yang berhadas besar.

AIR YANG DIGUNAKAN UNTUK MANDI WAJIB

Mandi wajib dikerjakan menggunakan menggunakan air mutlak yaitu air yang suci lagi menyucikan, dan tidak sah jika menggunakan air yang bukannya air mutlak.

CARA MANDI WAJIB

Cara mandi wajib paling afdhal tentunya mengikuti sunnah Baginda Rasulullah SAW. Berdasarkan hadis dari Aisyah ra.,

“Dahulu, jika Rasulullah SAW hendak mandi janabah (junub), beliau membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwuduk sebagaimana berwuduk untuk solat. Lalu beliau mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak 3 kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya.”(HR. Al Bukhari dan Muslim)

Cara mandi wajib yang paling baik adalah mengikuti cara yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi.

1.      Membaca bismillah sambil berniat untuk membersihkan hadas besar .

2.      Membasuh tangan sebanyak 3 kali.

3.      Membasuh alat kelamin dari kotoran dan najis.

4.      Mengambil wuduk sebagaimana biasa kecuali kaki. Kaki dibasuh setelah mandi nanti.

5.      Membasuh keseluruhan rambut di kepala.

6.      Membasuh kepala berserta dengan telinga sebanyak 3 kali dengan 3 kali menimba air.

7.      Meratakan air ke seluruh tubuh di sebelah lambung kanan dari atas sampai ke bawah.

8.      Meratakan air ke seluruh tubuh di sebelah lambung kiri dari atas sampai ke bawah.

9.      Menggosok bagian-bagian yang sulit seperti pusat, ketiak, lutut dan lain-lain supaya terkena air.

10.   Membasuh kaki.

Keperluan Mengambil Wudhu

Seseorang yang telah mengerjakan mandi wajib tidak perlu mengambil wudhu lagi untuk mengerjakan solat dengan syarat tidak melakukan perkara yang membatalkan wudhu setelah dia mengerjakan mandi wajib. Jika terbatal, cukup perlu mengambil wudhu lagi saja (tidak mandi lagi).

Sunat-Sunat Mandi Wajib

-      Seorang muslim sunah mengenakan kain hingga ke lutut seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw. bahasa sehari-harinya kita kenal dengan “basahan”

-      Pada masa mandi kita disunatkan menghadap kiblat, membaca bismillah, membasuh tangan, mengambil wuduk, mengosok-gosok seluruh badan, tertib dan muwalat, yaitu berturut tanpa putus.

-      Bagi perempuan yang mandi disebabkan haid dan nifas, disunatkan menggunakan parfum sehabis mandi.

Untuk Suami Istri

-      Bagi pasangan suami istri yang berhubungan, tidak harus bagi mereka segera mandi begitu habis berhubungan, tetapi diwajibkan mandi ketika ingin beribadah.

Bila Menunda Mandi Wajib

Mandi wajib boleh ditunda dari malam sampai pagi. Makanya pasangan yang berhubungan boleh menunda mandi wajib sampai pagi dan melakukan mandi wajib beberapa saat sebelum mengerjakan solat shubuh, tetapi mereka disunatkan berwudhu sebelum tidur jika ingin menunda mandi wajib sampai pagi. Sebagaimana sunahnya berwudhu sebelum tidur.

Seorang muslim boleh melewatkan mandi wajib sebelum solat. Setelah masuk waktu solat, ia wajib mandi sebelum menunaikan solat.

Bila Ragu-ragu

Jika seorang yang mengerjakan solat tetapi ragu-ragu apakah sama ada ia sudah mandi wajib atau belum, maka seluruh solat yang telah dikerjakannya (selama itu) adalah sah, dan untuk solat-solat berikutnya ia harus mandi wajib dulu.

Dan Jika Tiada Air (Atau Mudarat Tidak Boleh Terkena Air)

Jika terdapat sebab untuk melakukan tayammum, seperti ketiadaan air, atau tidak dapat menggunakannya akibat sakit, maka tayammum akan menggantikan wudhu dan mandi wajib. Maka seseorang yang junub (salah satunya habis berhubungan suami istri) hendaklah bertayammum lalu solat, kemudian apabila ada air, maka dia harus mandi untuk menghilangkan janabahnya.

“Rasulullah saw melihat seorang lelaki yang menjauhkan diri dan tidak solat dengan kaumnya, maka baginda berkata : Ya Fulan, apa yang menghalangi kamu dari tidak solat dengan kaummu? Dia menjawab : Ya Rasulullah, saya dalam keadaan junub, dan tiada air. Baginda berkata : Kamu hendaklah menggunakan tanah yang bersih, kerana ia mencukupi untukmu”. (Hadis riwayat al-Bukhari).

Bila datang Haid Sehabis Berhubungan Suami Istri

Wanita yang berjunub disebabkan hubungan dengan suaminya, kemudian datang haid sebelum mandi junub, apakah wajib mandi junub dulu ataupun boleh menunda mandi hingga habis haid?

Terdapat dua pendapat mengenai hal ini:

1.    Wajib mandi junub terlebih dahulu, kemudian sehabis haid mandi wajib lagi.

2.    Tidak wajib mandi junub dulu (menunggu haid selesai), saat habis haid baru mandi wajib untuk junub dan haid secara serentak.

Adapun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat kedua (wajib mandi sekali saja yaitu sehabis haid). Kerana mandi wajib ketika haid tidak memberikan faedah apapun.

Wallahu A’lam.

Mandi Besar / Mandi Junub

Hukum Mandi.

Bagi orang yang akan melakukan shalat, tidak sah sholatnya jika masih mempunyai hadast besar.
Hadast besar adalah hadast yang disebabkan oleh Bersetubuh, Keluarmani, haid, nifas, dan melahirkan. Hadast besar dapat dihilangkan dengan mandi junub / janabat / mandi wajib / mandi hadast besar. Hukum mandi besar adalah wajib.


Sebab-sebab yang mewajibkan mandi Junub adalah:

-      Bersetubuh (walaupun tidak keluar air mani)

-      Keluar air mani (baik karena bersetubuh maupun karena mimpi atau sebab lainnya)

-      Mati yang bukan Syahid (Orang mati syahid tidak wajib dimandikan)

-      Selesai haid (menstruasi)

-      Selesai Nifas

-      Wiladah (melahirkan).

Ciri - ciri Air Mani adalah:

-      keluarnya dari Kubul dengan memancar (tersendat-sendat).

-      Saat keluar terasa Nikmat.

-      Baunya:

a.   Jika masih basah seperti bau adonan roti atau bau mayang korma.

b.   Jika sudah kering seperti bau putih telur.

Fardhu Mandi Besar / Junub ada 3 yaitu:

1.    Niat.
Niat ini dibaca dalam hati pada saat mulai membasuh bagian manapun dari tubuh.
Lafadz Niat Mandi Besar adalah:


http://4.bp.blogspot.com/_ZO-fps53aJo/SqCzuWL4_wI/AAAAAAAAA1g/CWqeYtRenGA/s320/1+niat+mandi+fix.jpg


NAWAITUL GHUSLA LIRAF'IL HADATSIL AKBARI FARDHAN LILLAAHI TA'AALAA.

2.    Artinya:
"Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah Taala."
2. Membasuh seluruh tubuh dengan air sampai rata (serta rambut dan kulitnya harus terkena air).

3.    Menghilangkan Najist jika ada yang menempel pada tubuh.

4.    Sunat Mandi ada 5, yaitu:

1)    Membaca Basmalah ("Bismillahir rahmaanir rahiim pada saat akan mulai mandi.

2)    Berwudhu (sebelum mandi) seperti wudhu hendak sholat.

3)    Membasuh (menggosok) badan dengan tangan sampai 3 kali.

4)    Mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri.

5)    Muwalat, yaitu sambung menyambung dalam membasuh anggota badan.

MANDI SUNAT

Selain mandi wajib, ada beberapa mandi yang disunatkan, yaitu:

-      Mandi ketika hendak Sholat Jumat.

-      Mandi ketika hendak Sholat Idul Fitri.

-      Mandi ketika hendak Sholat Idul Adha.

-      Mandi setelah sembuh dari penyakit gila.

-      Mandi ketika hendak melaksanakan ihram haji atau umrah.

-      Mandi setelah memandikan mayat.

-      Mandi seorang kafir setelah masuk islam.

Larangan bagi orang yang mempunyai Hadast Besar:

A.   Larangan bagi orang yang sedang Junub:

-      Mendirikan Sholat, baik shalat wajib / sunat.

-      Mengerjakan Thawaf (Thawaf rukun haji / sunat).

-      Menyentuh / membawa Al-quran.

-      Berhenti lama (berdiam di masjid) / Itikaf.

B.   Larangan bagi orang yang sedang Haid / Nifas:

-     Semua larangan point2 diatas.

-     Di cerai (ditalak)

-     Berpuasa (wajib / sunat)

-     Bersetubuh

-     Bersenang - senang antara pusar perut dan lutut.

-     Menyeberangi mesjid jika khawatir mengotorinya dengan darah.

DOA HENDAK MANDI BESAR (JUNUB)

-      Disunahkan berwudhu dulu, niatnya untuk menghilangkan hadast besar

-      Doa setelah berwudu

”asyhadu allaa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rosuuluh, Alloohummaj’alni minat tawwabiina waj’alnii minal mutathohhiriin”

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata; yang tidak ada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, Ya Allah jadikan aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikan aku termasuk orang-orang yang suka mensucikan diri ’

-      Pendapat : Mandi hadas besar (junub) memang harus ada niatnya, niatnya bisa dalam hati yang intinya ingin bersuci, sebab Allah SWT maha tau dari apa yang ada dalam hati kita, Tapi ada pula yang mengatakan kalau nggak pake bacaan kurang mantap, ya silahkan saja…yang penting kita mandi berniat untuk mensucikan diri kita dari hadas besar (mandi junub).

-      Pendapat : Ada pendapat yang mengatakan bahwa mandi junub itu harus membasuh seluruh tubuh secara merata sebanyak 7x dengan tangan, terutama pada daerah senggama, harus dibersihkan dari najis yang mungkin masih menempel, akan tetapi ada pula yang bilang nggak perlu membasuh sebanyak 7x sebab saat ini sudah ada sabun mandi dan sampoo yang bisa membersihkan diri kita dari kotoran dan najis, nah semuanya pendapat tentu sudah ada dasar pemikiran dan hasil renungan dari para ulama, semua pendapat ulama adalah baik.

BERIKUT ADALAH BACAAN-BACAAN DOA HADAST BESAR

A.   DOA MANDI JUNUB / JANABAT

“Nawaitu ghuslal li rof’il hadatsil akbari minal janabati ‘an jami’il badani fardhan lillahi ta’ala.” Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari semua badan setelah junub, yang merupakan kewajiban hanya karena Allah semata.

B.   DOA MANDI SUCI MENSTRUASI

“Nawaitu ghuslal li rof’il hadatsil akbari minal haidi ‘an jami’il badani fardhan lillahi ta’ala” Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari semua badan saya setelah menstruasi, yang merupakan kewajiban hanya karena Allah semata

.

C.   DOA SETELAH BERSIH NIFAS

“Nawaitu ghuslal li rof’il hadatsil akbari minan nifasi ‘an jami’il badani fardhan lillahi ta’ala” Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari semua badan saya setelah nifas, yang merupakan kewajiban hanya karena Allah semata.

D.   DOA MANDI SETELAH MELAHIRKAN

“Nawaitu ghuslal li rof’il hadatsil akbari minal wiladati ‘an jami’il badani fardhan lillahi ta’ala” Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari semua badan saya setelah melahirkan, yang merupakan kewajiban hanya karena Allah semata”

Setelah berwudhu (sunnah) kemudian membaca niat, setelah itu guyur seluruh tubuh mulai dari ujung rambut hingga unjung kaki secara merata, bersihkan semua najis dan kotoran yang masih ada, atau yang menempel dalam tubuh (terutama daerah senggama)

TATA CARA BERSETUBUH

Bersetubuh adalah hubungan paling erat antara pria dan wanita. Sebuah persetubuhan hanya boleh dilakukan oleh pria dan wanita yang terikat dalam pernikahan. Jika tidak, maka itu adalah zinah.
Dalam ikatan pernikahan pun, tindakan bersetubuh harus dilakukan sesuai dengan ajaran agama. Tentu saja anda harus mengetahui bagaimana cara bersetubuh dalam Islam dan menjalankannya.

MERAYU dan BERCUMBU:

Nabi Muhammad s.a.w. melarang suami melakukan persetubuhan sebelum membangkitkan syahwat isteri dengan rayuan dan bercumbu terlebih dahulu.

Hadits Riwayat al-Khatib dari Jabir.

-      TELANJANG BULAT : Apabila diantara kamu mencampuri isterinya, hendaklah ia menutupi dirinya dan menutupi isterinya dan janganlah keduanya (suami isteri) bertelanjang bulat seperti keledai.

Hadits Riwayat Tabrani.

-      MENYETUBUHI DUBUR: Terkutuklah orang yang menyetubuhi isteri diduburnya.

DOA SEBELUM BERSETUBUH:

-      "Bismillah. Allaahumma jannibnaash syaithaa-na wa jannibish syaithaa-na maa razaqtanaa".
Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami berdua (suami isteri) dari gangguan syaithan serta jauhkan pula syaithan itu dari apa saja yang Engkau rezqikan kepada kami.

-      Dari Abdulah Ibnu Abbas r.a. berkata:
Maka sesungguhnya apabila ditakdirkan dari suami isteri itu mendapat seorang anak dalam persetubuhan itu, tidak akan dirosak oleh syaithan selama-lamanya.

-      Hadits Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas r.a.

-      HAMPIR KELUAR MANI: Dan apabila air manimu hampir keluar, katakan dalam hatimu dan jangan menggerakkan kedua bibirmu kalimat ini: "Alhamdulillaahil ladzii khalaqa minal maa'i basyara". Segala pujian hanya untuk Allah yang menciptakan manusia dari pada air.

PUTUS DITENGAH JALAN:

-      Apabila seseorang diantara kamu bersetubuh dengan isterinya maka janganlah ia menghentikan persetubuhannya itu sehingga isterimu juga telah selesai melampiaskan hajatnya (syahwat atau mencapai kepuasan) sebagaimana kamu juga menghendaki lepasnya hajatmu (syahwat atau mencapai kepuasan).

Hadits Riwayat Ibnu Addi.

-      MENDATANGI ISTERI MELALUI BELAKANG (ISTERI MENUNGGING): Dari Jabir b. Abdulah berkata:
Bahwa orang-orang Yahudi (beranggapan) berkata: Apabila seseorang menyetubuhi isterinya pada kemaluannya Melalui Belakang maka mata anaknya (yang lahir) akan menjadi juling. Lalu turunlah ayat suci demikian: "Isteri-isteri kamu adalah ladang bagimu maka datangilah ladangmu itu dari arah mana saja yang kamu sukai."

Surah Al Baqarah - ayat 223.

-      Keterangan:
Suami diperbolehkan menyetubuhi isteri dengan apa cara sekalipun (dari belakang, dari kanan, dari kiri dsb asalkan dilubang faraj).


-      BERSETUBUH MENDAPAT PAHALA: Rasulullah s.a.w. bersabda: ".....dan apabila engkau menyetubuhi isterimu, engkau mendapat pahala". Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, adakah seseorang dari kami mendapat pahala dalam melampiaskan syahwat? Nabi menjawab:

-      Bukankah kalau ia meletakkan (syahwatnya) ditempat yang haram tidakkah ia berdosa?
Demikian pula kalau ia meletakkan (syahwatnya) pada jalan yang halal maka ia mendapat pahala.

-      MENGULANGI PERSETUBUHAN:

Apabila diantara kamu telah mecampuri isterinya kemudian ia akan mengulangi persetubuhannya itu maka hendaklah ia mencuci zakarnya terlebih dahulu.

HAID:
Mereka menanyakan kepada engkau tentang perkara Haid.
Katakanlah: "Haid itu adalah kotoran". Oleh kerana itu jauhilah diri kamu dengan wanita-wanita yang sedang Haid dan janganlah kamu mendekati (menyetubuhi) mereka, sebelum mereka bersuci*.
Apabila mereka telah bersuci maka bolehlah kamu menyetubuhi mereka ditempat yang diperintahkan Allah kepada kamu. Sesungguhnya Allah itu menyukai orang-orang yang bertaubat dan Allah menyukai orang-orang yang mensucikan dirinya.


ASALKAN TIDAK BERSETUBUH:

Dari Masruuq b.Ajda'i berkata: Aku telah bertanya kepada 'Aisyah tentang sesuatu yang boleh dilakukan seorang suami terhadap isterinya yang sedang Haid.'Aisyah menjawab: Apa saja boleh, kecuali kemaluannya (bersetubuh).

TATA CARA BERSETUBUH (SEX)

Cara ini sangat perlu dilakukan bagi semua orang muslim yang sudah beristri, karena dengan melakukan pekrjaan yang sunnah insyaallah dapat memperoleh generasi yang lebih baik (Muslim Yang Sholeh).

SEBELUM BERSETUBUH

·         Tidak boleh keburu

·         Mengambil Air Udzu’

·         Membaca Baslamah

·         Membaca Surah Al-Ikhlas 3 Kali

·         Membaca Do’a “ Barokallahu Likulli Wahidin Minna ” 3 Kali

·         Membaca Do’a ” Allahumma Jannibnas Syaithona, Wajannibis Syaithona Fiima Rozaqtanaa ”

APABILA HAMPIR KELUAR MANI

·         Membaca Do’a ” Al-Hamdulliahil Ladzi Kholaqo Minal Maa’i Basyaran Faja’alahu Nasaban Washihran Wakaana Robbuka Qodiiran ”


Do’a Sebelum Bersetubuh


بِسْمِ اللهِ اَللَّھُمَّ جَنِّبْنَا الشَّیْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّیْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan Nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan untuk mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami.”

Reaksi: